Pemimpin Teladan
Oleh: Arief Budiman
Fenomena kepemimpinan global masa kini nampak kian suram. Sulit menemukan seorang pemimpin yang dapat diandalkan. Tampak luar, penuh pesona. Namun berbagai kasus yang justru menurunkan integritas seakan mengubur segala prestasi dan reputasi yang dikerjakan dengan susah-payah. Kepribadian seorang pemim-pin akan diwarnai dengan hati yang tetap terjaga benar dan baik. Karena sikap hati yang keliru akan menghalangi kebanyakan orang untuk ber-gerak maju dalam mencapai kesuksesan. Terkait masalah ini, pertama, pemimpin teladan senantiasa ber-upaya mematikan segala ke-inginan sendiri yang ternyata dapat menjadikan dirinya me-matikan orang lain. Hal ini akan nampak dalam sikap yang tidak akan memaksakan suatu kehendak yang justru menyusahkan orang lain.
Berbagai hal bisa mengganggu hati seorang pemimpin. Namun pemimpin teladan me-ngendalikan segala sesuatu dengan hati sehingga mampu membawa kesembuhan bagi orang lain karena pemimpin tersebut tidak berupaya mencari tahu penyebab semua hal terjadi di sepanjang kehidupan sehingga memiliki kete-nangan dalam hati dan pikiran. Sebab pemimpin yang baik biasanya mengelilingi dirinya dengan kesetiaan sehingga menjadi seorang yang dapat diandalkan.
Kedua, pemimpin teladan akan senantiasa menampak-kan karakter yang baik. Secara sederhana, karakter ialah hal-hal yang dilakukan seseorang secara terus-menerus di hadapan orang lain. Kebiasaan yang baik dibentuk sebagai hasil disiplin. Untuk ini Meyer berkata, “Karakter kita dilihat dalam seberapa banyak kekuatan yang kita miliki untuk melakukan perkara-perkara yang benar, sekalipun kita tidak merasa ingin melakukannya atau tidak mau me-lakukannya sama sekali. Karakter seorang pemimpin akan terlihat saat memberi prioritas melakukan suatu perkara yang benar bagi orang lain, meskipun hal itu mungkin tidak terjadi terhadap pemimpin tersebut. Karena karakter yang baik terung-kap justru pada saat tidak seorangpun yang memperhatikannya.
Karena itu, ketiga, seorang pemimpin teladan selalu siap mengalah sebelum meraih sebuah kemenangan. Beberapa tokoh dan pemimpin dunia mendapatkan pujian justru setelah terlebih dahulu mengalami serangkaian kegagalan dan kekalahan. Itu sebabnya, Yakob Tomatala mengartikannya bahwa seorang pemimpin tidak berarti sekadar mengalah. Tetapi membiarkan diri menjadi kalah, mengalahkan diri, agar ia gagal mengalahkan dengan kekerasan yang mematikan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar